Minggu, 02 Desember 2012

KISAH-KISAH DALAM KEHIDUPAN UMAR BIN KHATTAB



Sebagai seorang khalifah pengganti Abu bakar pada tahun 634 H kekuasaan islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium).

Keberhasilan Umar bin Khattab dalam menaklukan imperium besar (Persia dan Romawi) tidak lepas dari sosoknya yang tegas, dan sangat bersahaja.
Berikut kami kisahkan beberapa contoh teladan dari Umar bin khattab.

HURMUZAN dan UMAR BIN KHATTABDengan ditemani Anas Bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya.Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung disabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar keseluruh dunia pasti tinggal di Istana yang sangat megah.

Sampai di Madinah mereka langsung menuju tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga bertemu Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak di Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal seorang diri. Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukan bahwa Umar adalah lelaki yang berpakaian seadanya yang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya, tetapi memang itulah kenyataannya.

Sambil berdecak kagum Hurmuzan mengatakan, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman”.

TUNJANGAN UNTUK UMAR BIN KHATTAB  
 
Tatkala ‘Umar ibn al-Khaththâb r.a. diangkat menjadi Khalifah, ditetapkanlah baginya tunjangan sebagaimana yang pernah diberikan kepada Khalifah sebelumnya, yaitu Abû Bakar r.a. Pada suatu saat, harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik. Tokoh-tokoh Muhajirin seperti ‘Utsmân, ‘Alî, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati sesuatu. Di antara mereka ada yang berkata, “Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada ‘Umar agar tunjangan hidup untuk beliau dinaikkan.Jika ‘Umar menerima usulan ini, kami akan menaikkan tunjangan hidup beliau.”‘

Alî kemudian berkata, “Alangkah bagusnya jika usulan seperti ini diberikan pada waktu-waktu yang telah lalu.”Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah ‘Umar. Namun, Utsmân menyela seraya berkata, “Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada ‘Umar. Lebih baik kita memberi isyarat lebih dulu melalui puteri beliau, Hafshah. Sebab, saya khawatir, ‘Umar akan murka kepada kita.”Mereka lantas menyampaikan usulan tersebut kepada Hafshah seraya memintanya untuk bertanya kepada ‘Umar, yakni tentang bagaimana pendapatnya jika ada seseorang yang mengajukan usulan mengenai penambahan tunjangan bagi Khalifah ‘Umar.“Apabila beliau menyetujuinya, barulah kami akan menemuinya untuk menyampaikan usulan tersebut. Kami meminta kepadamu untuk tidak menyebutkan nama seorang pun di antara kami,” demikian kata mereka.Ketika Hafshah menanyakan hal itu kepada ‘Umar, beliau murka seraya berkata, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?”Hafshah menjawab, “Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan itu.

Umar kemudian berkata lagi, “Demi Allah, andaikata aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajah orang itu.”Setelah itu, ‘Umar balik bertanya kepada Hafshah, istri Nabi saw., “Demi Allah, ketika Rasulullah saw. masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau di rumahnya?”Hafshah menjawab, “Di rumahnya, beliau hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari.”‘Umar bertanya lagi, “Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?”Hafshah menjawab, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin.”‘Umar kembali bertanya, “Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?”Hafshah menjawab lagi, “Tidak, beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alastidur.”‘Umar kemudian melanjutkan perkataannya, “Hafshah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah saw.

selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku punakan mengikuti jejak beliau. Perumpamaanku dengan sahabatku—yaitu Rasulullah dan Abû Bakar—adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkanyang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yangterdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya, bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat.”(Sumber: Târîkh ath-Thabarî, jilid I, hlm. 164).

UMAR r.a DAN RAKYAT YANG KELAPARAN
 
Suatu malam, Sang Khalifah menemukan sebuah gubuk kecil yang dari dalamnya nyaring terdengar suara tangis anak-anak. Umar mendekat dan memerhatikan dengan seksama keadaan gubuk itu. Ia dapat melihat ada seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya.

Ibu itu kelihatan sedang memasak sesuatu. Tiap kali anak-anaknya menangis, sang Ibu berkata, “Tunggulah! Sebentar lagi makanannya akan matang.”

Selagi Umar memerhatikan di luar, sang ibu terus menenangkan anak-anaknya dan mengulangi perkataannya bahwa makanan sebentar lagi akan matang.

Umar menjadi penasaran. Setelah memberi salam dan meminta izin, dia memasuki gubuk itu dan bertanya kepada sang ibu, "Mengapa anak-anak Ibu tak berhenti menangis?”

“Itu karena mereka sangat lapar,” jawab si ibu.

“Mengapa tidak ibu berikan makanan yang sedang Ibu masak sedari tadi itu?”

“Tidak ada makanan. Periuk yang sedari tadi saya masak hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak. Biarlah mereka berpikir bahwa periuk itu berisi makanan. Mereka akan berhenti menangis karena kelelahan dan tertidur.”

“Apakah Ibu sering berbuat begini?” tanya Umar ingin tahu.

“Ya. Saya sudah tidak memiliki keluarga ataupun suami tempat saya bergantung. Saya sebatang kara,” jawab si ibu datar, berusaha menyembunyikan kepedihan hidupnya.

“Mengapa Ibu tidak meminta pertolongan kepada Khalifah? Sehingga beliau dapat menolong Ibu beserta anak-anak Ibu dengan memberikan uang dari Baitul Mal? Itu akan sangat membantu kehidupan ibu dan anak-anak,” nasihat Umar.

“Khalifah telah berbuat zalim kepada saya,” jawab si ibu.

“Bagaimana Khalifah bisa berbuat zalim kepada ibu?” sang Khalifah ingin tahu.

“Saya sangat menyesalkan pemerintahannya. Seharusnya ia melihat kondisi rakyatnya dalam kehidupan nyata. Siapa tahu, ada banyak orang yang senasib dengan saya.”

Umar berdiri dan berkata, “Tunggu sebentar, Bu. Saya akan segera kembali!”

Pada malam yang telah larut itu, Umar segera bergegas ke Madinah, menuju Baitul Mal. Ia segera mengangkat sekarung gandum yang besar di pundaknya. Abbas, sahabatnya membantu membawa minyak samin untuk memasak.

Maka, ketika Khalifah menyerahkan sekarung gandum yang besar kepada si ibu beserta anak-anaknya yang miskin, bukan main gembiranya mereka menerima bahan makanan dari lelaki yang tidak dikenal ini.

Umar berpesan agar ibu itu datang menemui Khalifah keesokan harinya untuk mendaftarkan dirinya dan anak-anaknya di Baitul Mal.
Setelah keesokan harinya, ibu dan anak-anaknya pergi untuk menemui Khalifah. Dan betapa sangat terkejutnya si ibu begitu menyaksikan bahwa lelaki yang telah menolongnya tadi malam adalah Khalifahnya sendiri, Khalifah Umar bin Khattab.
Segera saja si ibu minta maaf atas kekeliruannya yang telah menilai bahwa khalifahnya zalim terhadapnya. Namun Sang Khalifah tetap mengaku bahwa dirinyalah yang telah bersalah.

MENGGALI PARIT SEORANG DIRI

Umar bin Khattab tidak saja di kenal sebagai khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya kepala pemerintahan. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.

Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Untuk itu Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya. Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga amirulmukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

“Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!” sahut khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar dimana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

“Wahai saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya.

“Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?” tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.

“Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” si penggali parit balik bertanya.” Umar bin Khattab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani,” kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum. “Tuan salah terka. Umar bin Khattab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya,” terang si penggali parit,”.

“Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang terkenal agung seantero negeri itu tak punya istana?” raja itu mengerutkan dahinya.

“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk. Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. “Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!”kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”

Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.

“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri.” Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

“Benarkah ini istana Umar?”tanyanya pada pelayan-pelayan.

“Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab,” jawab salah seorang pelayan.

“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu.

“Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar sang raja.

Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja.” Yang duduk di hadapan Tuan adalah Khalifah Umar bin Khattab” sahut pelayan itu.

“Hah?!” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.

“Jad…jadi, anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!” ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota.

Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

MAKANAN ENAK UNTUK KHALIFAH


Kisah Umar bin Khattab bisa menjadi cermin bagi kita. Ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan, di masa pemerintahan Umar bin Khattab disuguhi makanan oleh rakyatnya. Kebiasaan yang lazim kala itu. Dengan senang hati gubernur menerimanya seraya bertanya “Apa nama makanan ini?”. “Namanya Habish, terbuat dari minyak samin dan kurma”, jawab salah seorang dari mereka.

Sang Gubernur segera mencicipi makanan itu. Sejenak kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. “Subhanallah” Betapa manis dan enak makanan ini. Tentu kalau makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab di Madinah dia akan senang, ujar Utbah.

Kemudian ia memerintahkan rakyatnya untuk membuat makanan dengan kadar yang diupayakan lebih enak. Setelah makanan tersedia, sang gubenur memerintahkan anak buahnya untuk berangkat ke madinah dan membawa habish untuk Khaliofah Umar bin Khattab. Sang khalifahsegera membuka dan mencicipinya. “Makanan Apan ini?” tanya Umar.

“Makanan ini namanya Habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab salah seorang utusan.

“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bia menikmati makanan ini?’, tanya Umar lagi.

“Tidak. tidak semua bisa menikmatinya”, jawab utusan itu gugup

Wajah Khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memrintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negrinya. Kepada Gubernurnya ia menulis surat “………makanan semanis dan seselezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu”

UMAR r.a DIMATA PEMIMPIN NASRANI


Berita kedatangan bala bantuan kepada pasukan Muslim yang tengah mengepung kota membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi yang berdiam di dalam kota menjadi ciut. Mengingat kedudukan Yerusalem sebagai kota suci, sebenarnya pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Sementara kaum Kristen yang mempertahankan kota itu juga sadar mereka tidak akan mampu menahan kekuatan pasukan Muslim. Menyadari memperpanjang perlawanan hanya akan menambah penderitaan yang sia-sia bagi penduduk Yerusalem, maka Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius mengajukan perjanjian damai. Permintaan itu disambut baik Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut dengan damai tanpa pertumpahan darah setetespun.

Walaupun demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suci itu hanya akan diserahkan ke tangan seorang tokoh yang terbaik di antara kaum Muslimin, yakni Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Sophronius menghendaki agar Amirul Mukminin tersebut datang ke Yerusalem secara pribadi untuk menerima penyerahan kunci kota suci tersebuit. Biasanya, hal ini akan segera ditolak oleh pasukan yang menang. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh pasukan Muslim. Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya di mana pasukan Persia itu melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Walau orang-orang Kristen telah mendengar bahwa perilaku pasukan kaum Muslimin ini sungguh-sungguh berbeda, namun kecemasan akan kejadian dua dasawarsa dahulu masih membekas dengan kuat. Sebab itu mereka ingin jaminan yang lebih kuat dari Amirul Mukminin.

Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis penduduk Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar r.a. yang berada di Madinah. Khalifah Umar segera menggelar rapat Majelis Syuro untuk mendapatkan nasehatnya. Utsman bin Affan menyatakan bahwa Khalifah tidak perlu memenuhi permintaan itu karena pasukan Romawi Timur yang sudah kalah itu tentu akhirnya juga akan menyerahkan diri. Namun Ali bin Abi Thalib berpandangan lain. Menurut Ali, Yerusalem adalah kota yang sama sucinya bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi, dan sehubungan dengan itu, maka akan sangat baik bila penyerahan kota itu diterima sendiri oleh Amirul Mukminin. Kota suci itu adalah kiblat pertama kaum Muslimin, tempat persinggahan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam pada malam hari ketika beliau ber-isra’ dan dari kota itu pula Rasulullah ber-mi’raj. Kota itu menyaksikan hadirnya para anbiya, seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Isa. Umar akhirnya menerima pandangan Ali dan segera berangkat ke Yerusalem. Sebelum berangkat, Umar menugaskan Ali untuk menjalankan fungsi dan tugasnya di Madinah selama dirinya tidak ada.

Kepergian Khalifah Umar hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta yang ditungganginya bergantian. Ketika mendekati Desa Jabiah di mana panglima dan para komandan pasukan Muslim telah menantikannya, kebetulan tiba giliran pelayan untuk menunggang unta tersebut. Pelayan itu menolak dan memohon agar khalifah mau menunggang hewan tersebut. Tapi Umar menolak dan mengatakan bahwa saat itu adalah giliran Umar yang harus berjalan kaki. Begitu sampai di Jabiah, masyarakat menyaksikan suatu pemandangan yang amat ganjilyang belum pernah terjadi, ada pelayan duduk di atas unta sedangkan tuannya berjalan kaki menuntun hewan tunggangannya itu dengan mengenakan pakaian dari bahan kasar yang sangat sederhana. Lusuh dan berdebu, karena telah menempuh perjalanan yang amat jauh.

Di Jabiah, Abu Ubaidah menemui Khalifah Umar. Abu Ubaidah sangat bersahaya, mengenakan pakaian dari bahan yang kasar. Khalifah Umar amat suka bertemu dengannya. Namun ketika bertemu dengan Yazid bin Abu Sofyan, Khalid bin Walid, dan para panglima lainnya yang berpakaian dari bahan yang halus dan bagus, Umar tampak kurang senang karena kemewahan amat mudah menggelincirkan orang ke dalam kecintaan pada dunia.

Kepada Umar, Abu Ubaidah melaporkan kondisi Suriah yang telah dibebaskannya itu dari tangan Romawi Timur. Setelah itu, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat itulah Perjanjian Aelia (istilah lain Yerusalem) dirumuskan dan akhirnya setelah mencapai kata sepakat ditandatangani. Berdasarkan perjanjian Aelia itulah Khalifah Umar r.a. menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim. Barang siapa yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi kota Muslim.

Perjanjian Aeliasecara garis besar berbunyi: “Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Setelah itu, Umar melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Lagi-lagi ia berjalan seperti layaknya seorang musafir biasa. Tidak ada pengawal. Ia menunggang seekor kuda yang biasa, dan menolak menukarnya dengan tunggangan yang lebih pantas.

Di pintu gerbang kota Yerusalem, Khalifah Umar disambut Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja, pemuka kota, dan para komandan pasukan Muslim. Para penyambut tamu agung itu berpakaian berkilau-kilauan, sedang Umar hanya mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan murah. Sebelumnya, seorang sahabat telah menyarankannya untuk mengganti dengan pakaian yang pantas, namun Umar berkata bahwa dirinya mendapatkan kekuatan dan statusnya berkat iman Islam, bukan dari pakaian yang dikenakannya. Saat Sophronius melihat kesederhanaan Umar, dia menjadi malu dan mengatakan, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama manapun.”

Di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus), Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifa Umar r.a. Setelah itu Umar menyatakan ingin diantar ke suatu tempat untuk menunaikan shalat. Oleh Sophronius, Umar diantar ke dalam gereja tersebut. Umar menolak kehormatan itu sembari mengatakan bahwa dirinya takut hal itu akan menjadi preseden bagi kaum Muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Umar lalu dibawa ke tempat di mana Nabi Daud Alaihissalam konon dipercaya shalat dan Umar pun shalat di sana dan diikuti oleh umat Muslim. Ketika orang-orang Romawi Bizantium menyaksikan hal tersebut, mereka dengan kagum berkata, kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa. “Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada ummat yang lebih baik …,” ujar Sophronius.

Umar tinggal beberapa hari di Yerusalem. Ia berkesempatan memberi petunjuk dalam menyusun administrasi pemerintahan dan yang lainnya. Umar juga mendirikan sebuah masjid pada suatu bukit di kota suci itu. Masjid ini sekarang disebut sebagai Masjid Umar. Pada upacara pembangunan masjid itu, Bilal r.a. – bekas budak berkulit hitam yang sangat dihormati Khalifah Umar melebihi dirinya – diminta mengumandangkan adzan pertama di bakal tempat masjid yang akan didirikan, sebagaimana adzan yang biasa dilakukannya ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah saw wafat, Bilal memang tidak mau lagi mengumandangkan adzan. Atas permintaan Umar, Bilal pun melantunkan adzan untuk menandai dimulainya pembangunan Masjid Umar. Saat Bilal mengumandangkan adzan dengan suara yang mendayu-dayu, Umar dan kaum Muslimin meneteskan air mata, teringat saat-saat di mana Rasulullah masih bersama mereka. Ketika suara adzan menyapu bukit dan lembah di Yerusalem, penduduk terpana dan menyadari bahwa suatu era baru telah menyingsing di kota suci tersebut. 
sumber: http://hamdiakhsanhikmah.blogspot.com/2012/08/kisah-kisah-dalam-kehidupan-umar-bin.html

Minggu, 21 Oktober 2012

Pedihnya Siksa Neraka

Perjalan Rasulullah S.A.W ketika isra’ mi’ra:  Pada 27 Rajab pada malam hari, tiga orang Malaikat turun ke bumi, mereka adalah Jibril, Mikail, dan seorang malaikat lainnya. Mereka bermaksud mengisra’ mi’rajkan nabi Muhammad S.A.W Mensucikan dan mengisi hatinya dengan hikmat, ilmu, yakin, dan islam. Kemudian beliau dibawa para malaikat itu untuk perjalanan malam hari (isra’) dari masjidil haram (makkah) menuju masjidil aqsha (palestina) beliau mengendarai seekor binatang mirip biqhal yang punya kecepatan bagaikan kilat itu disebut buroq. Disitulah tempat Rasullulah S.A.W Melihat makhluk yang menyeramkan sedang mengejar beliau dengan membawa kayu obor bernyala-nyala dan dengan api itu ia bermaksud hendak membinasakan Rasulullah saw. Dialah Jin Ifrit. Untuk menolak dan menghancurkan Ifrit maka jibril mengajarkan suatu do’a, jarak Ifritpun sudah semakin dekat Rasulullah saw. Segera membaca kalimat do’a, maka jatuh tersungkurlah Ifrit ke atas tanah dan terbakar menjadi abu oleh api obornya sendiri. Rasulullah dan para malaikat mengerjakan sholat dua rekaat, dan beliau bertindak sebagai imam. Selesai sholat, Jibril mengajak Rasulullah untuk melakukan mi’raj, yaitu naik ke langit berlapis tujuh, disanalah
Rasulullah berjumpa dengan ruh para nabi yaitu:
o Nabi Adam AS
o Nabi Idris AS
o Nabi Isa AS
o Nabi Yahya AS
o Nabi Harun AS
o Nabi Yusuf AS
o Nabi Musa AS
o Nabi Ibrahim AS
Setiap bertemu dengan ruh para nabi selalu terjadi salam-salaman di baitul Makmur pada langit ke tujuh Rasulullah S.A.W melakukan sembahyang bersama para malaikat, setelah selesai sholat beliau diajak melihat syurga, di syurga Rasulullah S.A.W menyaksikan berbagai macam kesenangan dan kenikmatan, keindahan dan kedamaian yang tiada bandingnya dengan yang ada di dunia ini sungguh tak tergambarkan oleh angan-angan manusia.
Adapun tingkatan Surga yaitu:
 Firdaus
 Jannatul adn
 Jannatun naim
 Jannatul ma’wa
 Darussalam
 Darul Muqamah
 Al-Muqamul-Amin
Pengertian Neraka
- Neraka adalah tempat berlakunya hukum pengadilan Allah bagi orang-orang yang berdosa dan durhaka kepadanya.
- Neraka adalah tempat balasan yang setimpal sesuai dengan perbuatan atau dosa yang dilakukan manusia selama hidupnya di dunia.
- Neraka puncak dari segala kesengsaraan dan kepedihan, tak ada kesenangan, jauh dari pertolongan, segala macam siksaan yang mengerikan telah tersedia, suara-suara menakutkan, jeritan-jeritan pilu karena kesakitan, ratap penyesalan, bau busuk darah dan nanah menggelegaknya cairan logam yang panas merebusjasad tak berkesudahan.
Adapun tingkatan neraka yaitu:
• Jahanam
• Lazha
• Jahim
• Hutamah
• Saqar
• Sa’ir
• Hawiyah
kemudian Rasulullah diperlihatkan siksaan-siksaan yang ada di neraka, diantaranya:
 Rasulullah S.A.W diperlihatkan seseorang yang dibelenggu kedua tangan dan kakinya, dibenamkan kedalam cairan yang mendidih yang tak terkira panasnya. Mereka menjerit-jerit kesakitan, setelah dibenamkan mereka ditarik lagi ke atas kali ini di tuangkan cairan logam mendidih dan membara kedalam mulut mereka. Itulah siksaan bagi orang-orang yang tak percaya adanya Tuhan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:“Sesungguhnya, tebal kulit seorang kafir (di neraka) ialah 42 hasta ukuran orang kuat yang besar. Giginya sebesar gunung Uhud, dan sungguh tempat duduknya dia di Jahannam seluas Makkah dan Madinah.” (HR. At-Tirmidzi dan al-Hakim. Lihat Shahihul Jami’ no. 2110) Namun, karena dahsyatnya neraka, kulit tersebut matang ketika terbakar. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 56)
 Kemudian Rasulullah diperlihatkan orang-orang yang meninggalkan sholat ketika hidup di dunia, mereka mendapatkan balasan tubi menimpa kepala mereka sampai hancur. Kepala itu tumbuh lagi dan dipukul lagi, begitulah seterusnya. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5). Para ulama menerangkan bahwa yang dimaksud “lalai” dalam ayat di atas mencakup tiga bentuk perbuatan, yaitu:
 Menunda-nunda shalat hingga baru dikerjakan ketika waktu shalat hampir berakhir.
 Mengerjakan shalat tanpa memperhatikan syarat dan rukunnya sebagaimana yang diperintahkan.
 Mengerjakan shalat tanpa disertai kekhusyukan dan tanpa merenungi makna bacaan shalat. Adapun siksa kubur, yang akan dialami oleh orang yang lalai dalam shalatnya, disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Samurah bin Jundab. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat siksa bagi orang yang lalai dalam shalatnya, yaitu kepalanya akan dipecahkan dengan sebuah batu besar dan hal itu dilakukan berulang kali. (HR. Bukhari)
 Ditunjukkan pula balasan bagi orang-orang yang sengaja meninggalkan puasa di bulan ramadhan,Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang digantung dalam keadaan kaki di atas dan mulut mereka robek-robek. Darah mengalir dari mulut mereka. Aku berkata, ‘Mereka adalah orang yang berbuka di bulan puasa sebelum dihalalkan berbuka’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no 3951, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad)
 Lalu diperlihatkan orang-orang yang perutnya mengembung besar melebihi perutnya, dari mulutnya keluar cairan nanah yang berbau sangat busuk, sedangkan sekujur tubuhnya dirayapi berbagai macam binatang berbisa yang tiada henti-hentinya menggigit dan menyengat sambil mengeluarkan bisa. Itulah siksaan bagi orang-orang yang suka berjudi, mabuk-mabukan dengan minuman keras sehingga lenyap akal pikiran mereka, memakan makanan haram pada waktu hidup di dunia. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Ada tiga macam manusia yang tidak masuk surga, peminum khamr, pemutus silaturahim, dan orang yang mempercayai sihir. Barangsiapa mati sebagai peminum khamr, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah. Seseorang bertanya, ‘Apa itu sungai Ghuthah?’ Rasul menjawab, ‘Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur. Para penghuni neraka lainnya merasa terganggu oleh bau kemaluan mereka’.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 4/399) “Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (Al Maaidah: 90)
 Kemudian bagi orang-orang yang suka memfitnah sehingga mencelakakan orang lain, maka lidah dan bibirnya dipotong-potong. Lidah dan bibirnya yang putus itu segera tumbuh lagi, lalu dipotong lagi hingga seterusnya.
 Di tunjukkan lagi orang-orang yang mencakari dan menggaruk badanya sendiri dengan kuku yang panjang dan tajam, dan mengucurkan darah. Itulah siksaan bagi orang-orang yang bertengkar sesama muslim.,
 Ada juga dua orang sedang berkelahi mati-matian dikelilingi binatang raksasa, mereka itu adalah orang-orang yang semasa hidupnya suka berjudi dan mengadu binatang seperti ayam, jangkrik, kambing, kuda dan lain-lain.
 Ada sekelompok orang yang menghadapi daging segar tapi mereka lebih suka memakan daging yang amat busuk dari pada daging segar, itulah siksaan bagi pelaku zina, mereka berbuat serong padahal mereka mempunyai istri atau suami yang sah. Masih hadits dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata, “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran (comberan). Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Lihat ash-Shahihah no 3951, dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh Muqbil dalam ash-Shahihul Musnad) “Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu”.(Al Furqaan: 68-69)
 Dan ada pula yang berenang di genangan darah dan nanah yang panas, mereka di hujani batu-batu neraka yang panas membara hingga kepala mereka hancur, itulah siksa bagi orang yang semasa hidupnya di duniasuka memakan riba atau membungakan uang berlipat-lipat.
 Lalu di tempat lain terlihat orang-orang yang ditusuk mulutnya, telinganya,hidungnya. Itulah siksaan bagi orang yang mempergunakan mulut telinga, mata dan hidungnya untuk berbuat dosa dan maksiat, dulu mulutnya digunakan untuk mengumpat, berdusta, bergunjing, dan berkata kotor, telinga, mata dan hidung digunakan untuk berbuat maksiat dan dilarang agama. Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Akan didatangkan seseorang kemudian dia dicampakkan ke neraka. Maka dia di sana berputar seperti berputarnya keledai di tempat penggilingannya, hingga para penduduk neraka berkumpul mengelilinginya. Mereka berkata kepadanya: “Wahai fulan, bukankah engkau dulu di dunia yang menyuruh kami kepada yang baik dan melarang kami dari yang mungkar?” Usamah berkata, dia menjawab: “Aku dulu menyuruh kalian kepada yang baik (tapi) aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari yang jelek, (tapi) aku melakukannya.” (Shahihul Jami’) Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Pada malam Isra’ aku dibawa kepada beberapa kaum yang lidah mereka dipotong dengan gunting api. Setiap kali selesai dipotong, lidah itu kembali lagi. Aku berkata: “Siapa mereka itu, wahai Jibril?” Jibril berkata: “Mereka adalah para penceramah dari kalangan umatmu yang mereka mengucapkan apa yang tidak mereka lakukan dan mereka membaca Kitabullah, tapi tidak mengamalkannya.” (Shahihul Jami’: 128)
 Terhadap orang yang mendustakan ayat seperti Al Qur’an, mereka akan ditimpa kehinaan dan siksa yang keras: “Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: “Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” [Al An’aam 124]
 Orang-orang yang mengabaikan ajaran dan perintah agama serta tidak yakin dengan adanya Tuhan, maka kepala mereka disiram dengan cairan timah panas, tentu saja mereka melolong kesakitan terkelupas kulit dan daging dibagian kepala mereka.
 Siksaan bagi koruptor, pemeras, perampok, dan pencuri tanganya yang dipotong utuh lagi, namun segera di potong lagi.
 Dan bagi para pelacur, gigolo (pelacur laki-laki), wanita yang suka menggugurkan kandungan karena hubungan gelap dan para pengusaha rumah pelacur, digantung dan dibenamkan ke dasar neraka.
 Sedangkan bagi para pelaku homo seksual dan lesbian, pantatnya ditusuk dengan besi menyala dan dipanggang diatas api neraka yang menjilat-jilat.
 Ada juga orang-orang yang berlari pontang-panting karena diberi pakaian dari api yang membakar tubuh mereka sendiri, siksaan ini ditambah dengan pukulan cabuk terbuat dari besi panas yang bergigi tajam, itulah siksaan bagi mereka yang berdurhaka kepada kedua orang tuanya meskipun mereka beriman kepada Allah. Mereka akan disiksa terus selama belum mendapat ampunan dari kedua orangtuanya. Karena,Allah swr menyifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy ‘orang yang sombong lagi celaka’. Tentang hal ini Allah swt berfirrnan, “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. ‘(Maryam: 32)”
 Bahkan ada juga orang yang kikir, serakah, sering makan harta anak yatim piatu mereka disetrika dengan besi panas hingga punggung mereka hancur luluh sekejap kemudian punggung mereka pulih lagi lalu disetrika lagi, dan lain sebagainya. “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (An Nisaa: 10)
 Tidak ada setitik dosa pun yang terhindar dari hukuman Tuhan, maka selagi hidup di dunia seorang harus melangkah dijalankan yang benar, yaitu jalan agama yang diridhoi Allah.

sumber: http://shazalastfriiends.wordpress.com/pedihnya-siksa-neraka/

Taat dan cinta kepada Allah dan Rasulullah saw

Allah SWT berfirman:
Katakanlah,”jika kalian (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian. (QS Ali-Imran [3]:31).
Kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepada mereka.
Ada yang mengatakan, apabila seorang hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan bahwa setiap yang nampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan karena Allah, berarti cintanya hanya milik Allah dan untuk Allah. Hal itu menurut keinginan mentaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan mengikuti Rasulullah saw. dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan kepada ketaatan kepada-Nya. Al-Hasan ra. Berkata,”beberapa kaum berjanji di hadapan Rasulullah saw.,’ Ya Rasulullah, sungguh kami mencintai Tuhan kami.’ Lantas turunlah ayat di atas.”
Basyar al-Hafi berkata,” Saya bermimpi bertemu dengan Nabi saw. beliau bertanya,’wahai basyar, tahukah engkau, dengan apa Allah meninggalkanmu di antara kawan-kawanmu?
“Tidak,ya Rasulullah,’ jawab saya.
Lantas Beliau bersabda,’ Dengan baktimu kepada orang-orang salih nasihatmu kepada saudara-saudaramu; kecintaanmu kepada sahabat-sahabatmu dan pengikut sunnahku; serta kepatuhanmu kepada Sunnahku, selanjutnya Nabi saw. bersabda,” Barangsiapa menghidupkan sunnahku, ian telah mencintaiku. Barangsiapa yang mencintaiku, pada Hari Kiamat ia bersamaku di surga.”‘
Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan bahwa orang yang berpegang pada sunnah Rasulullah saw. ketika manusia berbuat kerusakan dan terjadi pertikaian diantara para penganut mazhab, ia memperoleh pahala dengan setatus pahala syuhada. Demikian disebutkan dalam syir’ah al-Islam.
Nabi saw. bersabda,”Semua umatku masuk surga kecuali orang yang tidak menginginkannya.”
“Siapa orang yang tidak menginginkannya?” tanya para sahabat. “Orang yang menaatiku masuk surga. Sedangkan orang yang durhaka kepadaku tidak menginginkan masuk surga. Setiap amalan yang tidak berdasarkan sunnahku adalah kemaksiatan.” Jawab Nabi saw.
Seorang ulama berkata,”kalau Anda melihat seorang guru sufi terbang di udara, berjalan di atas laut atau memakan api, dan sebagainya, sementara ia meninggalkan perbuatan fardhu atau sunnah secara sengaja, ketahuilah bahwa ia berdusta dalam dalam pengakuannya. Perbuatannya bukanlah karomah. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian.”
Al-Junayd ra. Berkata,”Seorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dengan Allah. Jalan untuk sampai kepada Allah adalah mengikuti al-Mushthafa saw.”
Ahmad al-Hawari ra. Berkata,”Setiap perbuatan tanpa mengikuti Sunnah adalah batil. Sebagaimana sabda Nabi saw. barangsiapa yang mengabaikan Sunnahku, haram baginya syafaatku.” Demikian disebutkan dalam syi’ah al-Islam.
Ada seorang gila yang tidak meremehkan dirinya. Kemudian hal itu diberitahukan kepada Ma’ruf al-Karkhi. Ia pun tersenyum, lalu berkata,”saudaraku, Allah memiliki para pecinta dari kalangan anak-anak, orang dewasa, orang berakal, dan orang gila. Yang ini adalah yang engkau lihat pada orang gila,”
Al-Junayd berkata,”guruku as-Sarri ra. Jatuh sakit. Kami tidak tahu penyakitnya dan juga tidak tahu sebab sakitnya. Dokter yang berpengalaman memberikan resep kepada kami. Kami menampung air seninya ke dalam sebuah botol. Dokter itu pin melihat dan mengamatinya dengan seksama. Kemudian ia berkata,”Aku melihat seperti air seni seorang pecinta (’asyiq).’
Akupun seperti disambar petir dan jatuh pingsan. Botol itu pun jatuh dari tanganku. Kemudian aku kembali kepada as-Sarri dan mengabarkan hal itu kepadanya. Ia tersenyum dan berkata,’Semoga Allah menghapus apa yang ia lihat.’
Aku bertanya,’Guru mahabbah itu nampak jelas dalam air seni? Tanyaku.
‘Ya,’Jawabnya.”
Al-Fudhayl ra.berkata,”Apabila ditanyakan kepada Anda,’Apakah Anda mencintai Allah? Maka diamlah. Sebab, jika Anda menjawab,”
Tidak,’berarti Anda menjadi kafir.sebaliknya, jika Anda menjawab,
“ya,’berarti sifat Anda bukan sifat para pecinta Allah.”
Sufya berkata,”Barangsiapa mencintai orang yang mencintai Allah SWT, berarti ia mencintai Allah. Barangsiapa memuliakan orang yang memuliakan Allah SWT, berarti ia memuliakan Allah SWT.”
Sahal berkata,” Tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada Al-quran. Tanda kecintaan kepada Allah dan Al-Quran adalah kecintaan kepada Nabi saw. tanda kecintaan kepada Nabi saw. adalah kecintaan kepada Sunnahnya. Tanda kecintaan kepada Sunnahnya adalah kecintaan kepada akhirat. Tanda kecintaan kepada akhirat adalah dengan membenci keduniaan. Tanda kebencian kepada kedunian adalah tidak mengambilnya kecuali sebagai bekal dan perantara menuju akhirat.”
Abu al-Hasan al-Zunjani berkata,”Pokok ibadah itu adalah tiga anggota badan: (telinga,hati,dan lidah). Telinga untuk mengambil pelajaran; hati untuk bertafakur; sedangkan lidah untuk berkata benar, bertasbih, dan berdzikir. Allah SWT berfirman: Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.(QS al-Ahzab [33]:41-42).”
Abdullah dan Ahmad ibn Harb berada di suatu tempat. Lalu Ahmad ibn Harb memotong sehelai daun rumput.’ Abdullah berkata kepadanya,” Engkau mengambil lima hal yang melalaikan kalbumu dari bertasbih kepada maulamu. Engkau membiasakan dirimu sibuk dengan selain zikir kepada Allah SWT. Engkau menjadikan hal itu sebagai jalan yang diikuti orang lain, dan engkau mencegahnya dari bertasbih kepada Tuhannya. Engkau membebankan pada dirimu hujjah Allah ‘Azza wa Jalla pada Hari Kiamat,” demikian dikutip dari (Rauwmaq al-Majalis).
As-Sari ra. Berkata,” Saya bersama al-Jurjani melihat tepung. Lalu al-Junjani menelannya. Saya bertanya,’ Mengapa Anda tidak memakan makanan yang lain? Ia menjawab,’ saya menghitung di antara mengunyah dan menelan ada tujuh puluh kali tasbih. Jadi, saya tidak pernah lagi makan roti sejak empat puluh tahun yang lalu,’ jawabnya.”
Sahal ibn ‘Abdullah makan setiap lima belas hari sekali. Ketika memasuki bulan Ramadhan, ia tidak makan kecuali sekali saja. Sesekali ia menahan lapar hingga tujuh puluh hari. Apabila makan, badannya menjadi lemah. Akan tetapi, jika lapar badannya menjadi kuat. Ia beritikaf di Masjidil Haram selama tiga puluh tahun tanpa terlihat makan dan minum. Ia tidak melewatkan sesaat pun dari berdzikir kepada Allah.
‘Umar ibn ‘Ubayd tidak pernah keluar rumahnya kecuali karena tiga hal: [shalat berjamaah, menjenguk orang sakit, dan melayat orang meninggal]. Ia berkata,”Aku melihat orang-orang mencuri dan merampok. Umur adalah mutiara indah yang tidak ternilai. Jadi, hendaklah disimpan dalam lemari yang abadi di akhirat. Ketahuilah, pencari akhirat harus melakukan kezuhudan dalam kehidupan dunia agar cita-citanya hanya satu dan batinnya tidak terpisah dari lahirnya. Tidak mungkin menjaga keadaan itu kecuali dengan penguasaan lahir dan batin.”
Ibrahim ibn al-Hakim berkata,” Apabila hendak tidur, ayahku sering menceburkan diri kelaut, lalu bertasbih. Lantas ikan-ikan hiu berkumpul dan bertasbih bersamanya.”
Wahb ibn Munabbih berdoa kepada Allah agar dihilangkan rasa kantuk di malam hari. Ia tidak pernah tidur selama [empat puluh tahun].
Hasan al-Hallaj mengikat kakinya dari mata kaki hingga lutut dengan tiga belas ikatan. Ia menunaikan shalat dalam keadaan seperti itu sebanyak seribu rakaat dalam sehari semalam.
Al-Junayd pernah pergi ke pasar dan membuka kedainya, ia masuk, menurunkan tirai, menunaikan salat empat ratus rakaat, kemudian pulang. Selama empat puluh tahun, Habsyi ibn Daud menunaikan salat dhuha dengan wudhu untuk salat isya. Jadi, hendaklah orang-orang Mukmin selalu dalam keadaan suci. Setiap kali berhadas, bersegeralah bersuci, salat dua rakaat, dan berusaha menghadap kiblat dalam setiap duduknya. Bayangkan bahwa dirinya sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. menurut kadar kehadiran dan pengawasan batinnya, sehingga ia terbiasa tenang dalam segala perbuatan. Ia menanggung penderitaan, tidak melakukan sesuatu yang menyakitkan, dan memohon ampunan dari setiap hal yang menyakitkan tidak membagakan diri (ujub) termasuk sifat setan. Pandanglah diri dengan mata kehinaan dan pandanglah orang-orang salih dengan mata kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan orang-orang salih, Allah mengharamkannya bergaul dengan mereka. Barangsiapa yang tidak mengenal mulianya ketaatan, dicabutlah manisnya ketaatan dari kalbunya.
Al-Fudhayl ibn ‘Iyadh ditanya,” Wahai Abu ‘Ali, kapan seseorang bisa dikatakan orang salih?”
“Apabila ada kesetiaan dalam niatnya, ada ketakutan dalam kalbunya, ada kebenaran pada lidahnya, dan amal salih pada anggota tubuhnya,” jawabnya.
Allah SWT berfirman ketika Nabi saw. melakukan mikraj,”Wahai Ahmad, jika engkau ingin menjadi orang yang paling [wara],’ berlaku zuhudlah di dunia dan akhirat,”
“Tuhan, bagaimana agar saya berlaku zuhud di dunia ?” tanya Nabi saw.
“Ambillah dari dunia itu sekedar memenuhi keperluan makan, minum, dan pakaian. Janganlah menyimpannya untuk hari esok, dan biasakanlah berdzikir kepada-Ku,” Allah menjawab.
“Tuhan, bagaimana caranya aku membiasakan berdzikir kepada-Mu?” tanya Nabi saw. lagi.
“Dengan mengasingkan diri dari manusia. Gantilah tidurmu denga salat dan makanmu denag lapar,” jawab Allah SWT.
Nabi saw. bersabda,” Kezuhudan di dunia dapat menenangkan hati dan badan. Kecintaan kepada kezuhudan dapat memperbanyak tekad kuat dan kesediha. Kecintaan kepada keduniaan merupakan induk setiap kebaikan dan ketaatan.”
Seorang salaih melewati sekelompok orang. Tiba-tiba, ia mendengar seorang dokter sedang menerangkan penyakit dan obat-obatan. Ia bertanya,” Wahai penyembuh penyakit tubuh, dapatkah Anda mengobati penyakit hati?”
“Ya, sebutkan penyakitnya,” tantang dokter itu.
“Dosa telah menghitamkannya sehingga menjadi keras dan kering.apakah Anda dapat mengobatinya?” tanya orang salih,
“Obatnya adalah ketundukan; permohonan yang sungguh-sungguh; [Istighfar] di tengah malam dan siang hari; bersegera menuju ketaatan kepada [Zat} Yang Mahatahu atas segala yang gaib,"jawab dokter.
Lalu orang salih itu menjerit dan berlalu sambil menangis. Ia berkata."Dokter yang baik, Anda telah mengobati penyakit saya."
"Ini adalah penyembuhan penyakit hati orang bertobat dan mengembalikan kalbunya kepada [Zat] Yang Maha Benar dan Maha Penerima tobat,” kata dokter itu.
Dikisahkan, seseorang membeli seorang budak. Lalu budak itu berkata,” Tuan, saya ingin mengajukan tiga syarat kepada Anda. Pertama Anda tidak menghalangi saya untuk menunaikan salat wajib apabila tiba waktunya. Kedua, Anda boleh memerintah saya sesuka Anda di siang hari, namun tidak menyuruh saya di malam hari. Ketiga, Anda memberikan kepada saya sebuah kamar di rumah Anda yang tidak boleh dimasuki orang lain.”
“Aku akan memenuhi syarat-syarat itu,” kata pembeli budak itu. Selanjutnya ia berkata,” lihatlah kamar-kamar itu.” Budak itu pun berkata,” Saya mengambil kamar ini.”
“Wahai budak, engkau memilih kamar yang rusak? Tanya tuannya.
“Tuan, tidakkah Anda tahu bahwa yang rusak itu di sisi Allah adalah kebun? Jawab budak.
Budak itu selanjutnya melayani tuannya di siang hari, dan malamnya ia beribadah kepada Tuhannya. Hingga pada suatu malam, tuannya berkeliling di sekitar rumahnya, lalu sampai di kamar budak itu. Tiba-tiba ia melihat kamar itu bercahaya, sementara budak itu sedang bersujud dan di atas kepalanya ada pelita dari cahaya yang tergantung di antara langit dan bumi. Budak itu bermunajat merendahkan diri. Ia berdoa,” Ya Allah, aku memenuhi hak tuanku dan melayani siang hari. Kalau tidak begitu, niscaya aku tidak akan melewatkan siang dan malamku selain untuk berkhidmat kepada-Mu. Oleh karena itu ampunilah aku, Tuhanku.”
Tuannya menyaksikan hal itu hingga tiba waktu subuh. Pelita itu menghilang dan kamar itu menutup kembali. Lalu ia kembali dan memberitahukan hal itu kepada istrinya. Ketika malam kedua tiba, ia memegang tangan istrinya dan mendatangi pintu kamar itu. Tiba-tiba mereka menemukan budak itu sedang bersujud dan ada pelita di atas kepalanya. Merekapun berdiri di depan pintu kamar sambil memandangi budak itu dan menangis hingga tiba waktu subuh. Lalu mereka memanggil budak itu dan berkata,” Engkau aku merdekakan karena Allah SWT sehingga engkau dapat mengisi siang dan malammu dengan beribadah kepada [Zat] yang engkau mohonkan maaf-Nya.”
Budak itu lantas mengangkat tangan ke langit dan berkata;
Duhai Pemilik segala rahasia
Kini rahasia itu telah nampak
Aku tak menginginkan lagi kehidupan
Setelah rahasia itu terbukakan.
Kemudian ia berdoa,”Ya Allah, aku memohon kematian kepada-Mu.” Budak itu pun tersungkur, lalu meninggal. Demikianlah keadaan orang-orang salih serta para pecinta dan para pedamba.
Dalam Zahr ar-Riyadh disebutkan bahwa Musa as. Mempunyai seorang karib yang sangat dekat. Pada suatu hari karibnya berkata,” Wahai Musa, berdoalah kepada Allah agar aku dapat mengenal-Nya dengan makrifat yang sebenar-benarnya.”
Musa as. Lantas berdoa dan doanya dikabulkan. Kemudia karibnya pergi kepuncak gunung bersama binatang-binatang buas. Musa pun kehilangan dia. Musa lalu berdoa,” Tuhan, aku kehilangan saudara dan karib.”
Toba-tiba ada jawaban,”Wahai Musa, orang yang mengenal-Ku dengan makrifat yang sebenar-benarnya tidak bergaul dengan makhluk untuk selama-lamanya.”
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Yahya as. Dan Isa as. Sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang perempuan menabrak mereka. Lalu Yahya as. Berkata,” Demi Allah, aku tidak merasakannya,”
‘Isa as. Bertanya,” Mahasuci Allah, badanku ada bersamaku, tetapi kalbumu ada dimana?”
“Wahai anak bibiku, kalau kalbu merasa tenteram kepada selain Allah sekejap mata pun, niscaya engkau mengira aku tidak mengenal Allah,” jawab Yahya as.
Seorang ulama berkata,” Makrifat yang benar adalah menceraikan dunia dan akhirat, serta menyendiri untuk maula. Ia mabuk karena tegukan mahabbah. Lalu ia tidak sadar kecuali ketika melihat Allah. Ia berada di atas cahaya dari Tuhannya,”[]
 
sumber: http://lanangtea.blogdetik.com/taat-dan-cinta-kepada-allah-dan-rasulullah-saw/